Bola Indonesia Harus Pakai Teknologi Komunikasi

 Apakah boleh menggunakan teknologi komunikasi di olahraga sepak bola?. Mungkin kalau dibilang smartphone, atau laptop tidak mungkin alat itu masuk ke bench pemain. Terus teknologi seperti apa yang kami maksud?

Kalau kita melihat dari regulasi FIFA, tertulis bahwa alat elektronik tidak boleh digunakan pada kompetisi Piala Dunia 2018.  Dan pada akhirnya setelah kompetisi tersebut, FIFA telah mengizinkan para tim pelatih menggunakan alat teknologi tersebut.

Seperti apa sih?




FIFA WORLD CUP 2018 REGULATIONS

The use of any electronic communication equipment and or system between and or amongst players and or technical staff is not permitted. FIFA will produce more information by means of a circular letter

Penggunaan peralatan dan atau sistem komunikasi elektronik antara dan atau di antara pemain dan atau staf teknis tidak diizinkan. FIFA akan menghasilkan lebih banyak informasi melalui surat edaran

REGULASI LIGA 1 2020 (Pasal 21 Ayat 8)

Pemain tidak diperbolehkan menggunakan alat komunikasi elektronik dalam bentuk apapun, kecuali jika EPTS (Electronic Performance and Tracking System) diperbolehkan. Penggunaan alat komunikasi elektronik sudah diperbolehkan, dan hanya digunakan untuk official tim seperti pelatih, asisten pelatih, dll. Dengan alasan taktik/teknis kepelatihan, keselamatan pemain, dalam ukuran yang kecil, mobile, dan bisa digenggam.

Contoh: Microphone, Headphone, Ear-piece, Smartphone, Tablet, dan Laptop

Penggunaan EPTS harus sesuai dengan laws of the game.

Indonesia Wajib Pakai?

Penggunaan teknologi di atas semacam itu sangat bermanfaat untuk menghadapi tim yang kuat, membaca strategi, dan gaya permainan lawan. Data yang ditampilkan sesuai realtime pertandingan (ibaratkan live streaming)

Kalian pernah berpikir seperti ini?
Bagusan juga gua dari pada pelatih

Memang betul guys, gua juga pernah berpikir seperti itu. Karena saat kita melihat pertandingan lewat TV, disitu sangat mudah sekali menilai permainan, kekurangan tim. Sehingga lebih mudah dicerna dan dipahami.

Terlebih dari hal itu, bahkan kita pernah berpikir ketika timnas Indonesia tertinggal. Malah pelatih timnas Indonesia memasukkan pemain yang salah, atau tidak harus dimainkan. Karena dari pandangan tribun atau TV, lebih mudah menilai pemain atau kesalahan pemain.

Para pelatih pun, ketika baru menangani timnas, atau klub. Bahkan melawan tim yang kuat, rata-rata pelatih menggunakan video hasil pertandingan guna untuk membaca gaya bermain lawan.

Kalian tau, dimana gambar diatas dan siapa dia?

Mereka adalah tim analysis timnas Jepang U19 di Gelora Bung Karno tahun 2018. Saat itu timnas Indonesia kalah 2-0 dari Jepang.

Keuntungan menggunakan diatas, dan sedikit cerita..

Saat itu timnas Indonesia selalu melakukan serangan balik "counter-attack" yang selalu sukses dan membuat peluang berbahaya, namun hanya 20menit saja.

Jepang merubah bagian sisi belakang, dengan menggunakan 3 pemain bertahan. Jepang overload dari sisi kiri Indonesia. Pemain winger Indonesia sedikit kerepotan ketika defense, karena turunnya sangat jauh.

Tidak memiliki width (lebar) jadinya sulit untuk melakukan serangan balik. Dan terlalu lama bertahan pemain Indonesia, akhirnya kejebolan di menit 44'.

Respon dari tim Jepang sangat cepat, dan akurat. Karena mereka dibantu oleh orang luar yang dari tribun. Mereka memiliki 2 tim analisis yang saling berbeda tugasnya. 1 untuk mencatat data, dan 1 nya lagi melakukan komunikasi lewat alat elektronik atau saat istirahat babak pertama.

Penutup: Semoga menambah wawasan kalian.

Post a Comment

0 Comments