Beli Pemain Mahal Atau Membangun Fasilitas Sepak Bola Indonesia


All right guys welcome back to my blog kali ini beberapa hari terakhir ada keributan tentang masalah sepak bola. Tentang membeli pemain mahal atau membangun fasilitas sepak bola. Artikel ini sesuai pendapat pribadi gua sendiri, kalian boleh setuju atau tidak setuju.

Awal keributan tentang ini, dikarenakan negara tetangga seperti Malaysia dan Vietnam telah membangun sejumlah fasilitas lengkap khususnya untuk tim nasional negaranya sendiri. Bahkan fasilitas tersebut sangat besar, terdiri dari 1 lapangan lebih, kolam renang, alat gym, mess, kelas belajar, dan lapangan untuk olahraga lain.

Sangat wajar kita harus meributkan tentang hal ini, agar Indonesia sadar kemampuannya berada di sepak bola.

Realita Sepak Bola Indonesia

Sepak bola Indonesia atau Liga1Shopee yang terdiri dari 20 klub rata-rata mampu untuk membeli pemain seharga 1 milliar lebih. Tapi belum tentu pemain mahal tersebut bermain dengan sesuai ekspetasi klub.

Dengan 1 milliar/pemain, di regulasi tersebut terdapat peraturan transfer pemain asing. Jumlahnya adalah 1 pemain asia, dan 3 pemain non asia.

Kalau dilihat-lihat jika harga 1 milliar dalam 1 pemain, maka jumlah yang harus dikeluarkan adalah 4 milliar untuk memenuhi stok kebutuhan klub. Apalagi ada yang 1 milliar lebih jika pemain asing tersebut memang terkenal, umur muda, dan performa apik.

Sebut saja pengeluaran 5 milliar per musim untuk 4 pemain

Bayangkan uang 5 milliar, bisa dibuat apa saja sih?. Kalau di pikir-pikir bisa mendapatkan tanah seluas lapangan standar fifa, sama pengerjaaan perataan tanah, dan rumput.

Sebaiknya Harus Ngapain?

Menurut pribadi, mendingan membuat fasilitas tempat latihan dari pada numpang punya tanah orang atau lapangan pemerintah.

Waduh mas, kalau gak beli pemain asing nanti gak berprestasi loh!!!

Pemikiran diatas merupakan salah satu contoh yang sepak bolanya tidak akan maju. Kenapa tidak akan maju?, ini bukti para komentar tokoh sepak bola

Timnas Indonesia melakukan training center dengan jangka panjang merupakan hal yang ketinggalan zaman. Seharusnya timnas Indonesia menikmati para pemain top dari klubnya bukan melatihnya dari nol di timnas Indonesia.-BungTowel

Kamu sudah senior, passing yang bener, passing yang keras, passing yang kuat-ShinTaeYong

Dua komentar di atas sudah cukup menjadi bukti bahwa fasilitas sepak bola di Indonesia sangat kurang. Bahkan sebagian klub liga 1 hanya 1-3 klub yang memiliki lapangan latihan sendiri. Sejauh ini tahun 2020, yang baru gua lihat cuma PSIS Semarang.

Apakah Indonesia bisa bersaing di asia tanpa pemain asing?

Jawabannya pasti bisa,

Buktinya apa?

Shin Tae Yong memperlihatkan kerja kerasnya, dia melakukan hal yang signifikan. Timnas Indonesia U19 buktinya bisa bersaing dengan tim eropa. Kalau membicarakan Eropa, timnas Indonesia zaman dulu gak bisa bakalan menang.

Tapi sekarang dibawah asuhan STY, Indonesia bisa menampilkan terbaiknya, bahkan bisa menang, cleansheet, seri, dan kalah tipis. 

Karena faktor berikut:

  1. Fasilitas yang memadai, TC di Kroasia tempatnya sangat bagus, bahkan lapangan di daerah desa saja terlihat lapangan standar FIFA.
  2. Disiplin
  3. Memilih makanan
  4. Pelatih berpengalaman

Yang Saya Mimpikan

Andai Shin Tae Yong bisa melakukan jurus kagebunshin no jutsu, dengan membuat bayangan 20 Shin Tae Yong. Gua sempat berpikir-pikir apa jadinya jika para klub lebih mementingkan fasilitas dibandingkan membeli pemain mahal.

Setelah membangun fasilitas lengkap pada setiap klub, di isi oleh pelatih Shin Tae Yong setiap klub. Di tambah materi latihan yang keras, fisik, disiplin, menjaga makanan, dan melatih di era modern.

Dengan hal itu, pastinya setiap para klub akan percaya kepada pemain lokal dibandingkan pemain asing. Karena Shin Tae Yong sudah menampilkan squad Garuda Muda U19 yang bermain di Kroasia. Bisa menang lawan eropa, seri, cleansheet, bahkan kalah tipis.

Jika menggunakan jalan diatas, saya yakin generasi anak muda Indonesia memiliki banyak kesempatan untuk tampil di dunia. Dengan latihan ala STY, uji coba klub lokal melawan benua Asia dan Eropa.

Saat ini generasi anak muda di Indonesia tampak kesulitan, dikarenakan pihak klub lebih mempercayai pemain asing ketimbang anak muda. Padahal STY sudah menjadi bukti bahwa lokal bisa mengalahkan pemain asing.

TC Jangka Panjang Kata Bung Towel

Sepak Bola Indonesia sangat terbalik dari FIFA, Indonesia lebih mengikuti peraturan AFIF. Apa itu AFIF, coba saja dibalik pasti tulisannya FIFA. Maka dari itu artinya federasi Sepak Bola Indonesia sering membantah peraturannya. Contohnya saja, menunda Liga1 demi pilkada padahal Liga asia tenggara negara lain sudah jalan walaupun dilanda pandemi Covid-19. Jadwal yang tidak teratur, kegiatan politik lebih utama.

Hal ini menyebabkan kualitas Liga1 bisa terbilang sangat buruk, karena ketergantungan politik.

Membicarakan TC panjang.

Sepak bola modern seperti eropa, atau yang dekat-dekat saja seperti Korea, dan Jepang. Mereka melakukan TC dengan jangka pendek, dikarenakan mereka sudah terlatih dan terpercaya kemampuannya.

Sedangkan di Indonesia...
Kamu Senior kok gak bisa passing sih?

Mendengar kata-kata tersebut dari STY, seharusnya teknik dasar seperti passing, mental, fisik, dan disiplin adalah tanggung jawab klub.

Timnas Indonesia seharusnya menikmati pemain berbakat dari klub, bukannya melatih dari nol.

Seperti halnya negara Eropa, mereka bisa menang walaupun squad sering gonta-ganti. Dikarenakan dalam materi latihan di klub sudah terbilang modern. Hal ini dikarenakan ada beberapa faktor:

  1. Fasilitas yang mendukung
  2. Kedisiplinan
  3. Latihan dengan cara serius
  4. Faktor gizi dan asupan makanan
Dibandingkan dengan Indonesia...

Justru Timnas Indonesia yang membuat pemain berbakat, dan beberapa klub lokal tertarik untuk menawarkan kontrak. Hal ini memang terbalik dibandingkan negara sepak bola yang maju.

Walaupun TC jangka pendek, untuk sekelas negara Eropa tidak masalah dengan waktu yang mepet. Karena sang pemain sudah diajarkan di klub bagaimana caranya mengelola waktu, energi, agar tidak lelah.

Tetapi dengan keadaan seperti ini.....

Sangat memaklumi, karena Liga1 tidak dijalankan. TC timnas jangka panjang sangat harus dilakukan agar tidak kehilangan materi latihan sepak bola.

Penutup:

Jika artikel ini bermanfaat jangan lupa share sebanyak-banyaknya.

Post a Comment

0 Comments